Tampilkan postingan dengan label Geofisika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geofisika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

TUTORIAL COREL DRAW BERBAHASA INDONESIA


01. Butterfly Ornament
-Corel Draw
-Mengatur Tampilan
-Perataan Object
-Memutar Dan Mengatur Urutan Object
-Group, Combine, Weld Dan Trim
-Insersect Dan Back Minus Front
-Ornament Kotak
-Menambah Lingkaran Dan Segitiga
-Tracing Kupu-Kupu


02. It’s Valentine Day
-Background Kotak Full Color
-Menambahkan Text
-Membuat Hati Dalam Kotak
-Menggambar Bunga Waru
-Sentuhan Akhir

03. Hit The Floor!
-Layout Background
-Acessories Desain
-Menambahkan Foto Artis
-Mengatur Layout Text

04. Kartu Perdana Mentari
-Sketsa Sinar Matahari
-Pewarnaan Sinar
-Menggambar Pipi
-Sketsa Mata
-Menggambar Bibir & Bayangan
-Pewarnaan Wajah
-Menyelesaikan Bagian Wajah
-Layout Kartu
-Pewarnaan Kartu
-Sentuhan Akhir

05. Girl Shopper
-Mempersiapkan Layer
-Tracing Wajah
-Membuat Bayangan & Wajah
-Rambut
-Mewarnai Rambut
-Tracing Tangan
-Tracing Baju
-Tracing Kaki Dan Sepatu
-Tas Belanja
-Sentuhan Akhir

06. Blossoming Flower
-Menggambar Bunga
-Daun Dan Batang
-Sentuhan Akhir

07. Tugu Malang
-Tugu Bagian Atas
-Tugu Bagian Tengah
-Membuat Anak Tangga

08. Cute Caterpillar
-Membuat Ulat Bulu
-Menambahkan Daun Dan Batang
-Background Dan Balon Text

09. Ngalam City Pin
-Menggambar Background
-Apel Hijau
-Menambahkan Balon Text

10. Welcome to Malang
-Menggambar Bola Mata Di Tugu
-Menambahkan Mulut Dan Tangan
-Menggambar Awan
-Empat Warna Pelangi
-Menambah Text Dan Gambar Hati

11. Malang View Calendar
-Bukit-Bukit Dan Pepohonan
-Menambahkan Matahari Dan Text
-Gambar Awan Dan Memo
-Menata Layout Kalender

12. Distro Clothing
-Tracing Mobil VW
-Menambahkan Lingkaran Pelangi
-Efek Bercak Dan Gambar Bunga
-Text Auto Frog Dan Bintang
-Menggabung Desain Ke Kaos


*Untuk download  TUTORIAL TUTORIAL COREL DRAW BERBAHASA INDONESIA silahkan kontak Ikram via email : siteengineering90@gmail.com

Sabtu, 19 April 2014

Metode Eksplorasi Awal Air Tanah


Berikut ini merupakan cuplikan video Metode Eksplorasi Awal Air Tanah Dengan Cara Geolistrik Wenner SNI-03-2528-1991, http://www.youtube.com/watch?v=efs7oTHdb-M

Mengenal Eksplorasi Geolistrik


Mengenal Eksplorasi Geolistrik

Dalam beberapa seri pertama, kita mengenal beberapa informasi umum tentang fenomena gempa bumi. Gempa bumi di bidang keilmuan geofisika merupakan fenomena sifat fisika bumi yang elastik. Atau dapat berubah bentuk. Dalam seri yang kedua ini, akan dibahas bagaimana sifat fisika bumi lainnya, yaitu kelistrikan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk bidang eksplorasi. Artikel ini membahas teori-teori dan beberapa hal mendasar dari geolistrik, silahkan Anda lanjut ke link berikut untuk melihat bagaimana aplikasi Geolistrik dalam eksplorasi sumber daya alam.
Batuan-batuan di dalam bumi, dan beberapa material lainnya (misalnya fluida, mineral, dan lain sebagainya) memiliki resistivitas atau konduktivitas tertentu. Resistivitas adalah ukuran bagaimana suatu material mengalirkan aliran arus listrik. Batuan berpori dengan kandungan fluida yang bersifat elektrolit biasanya memiliki nilai resistivitas yang rendah, artinya batuan tersebut memiliki kemampuan yang baik dalam mengalirkan aliran arus listrik atau batuan tersebut bersifat konduktif. Distribusi resistivitas di bawah permukaan bumi diperoleh dari hasil perekaman beda potensial di permukaan akibat dari adanya arus listrik yang diinjeksikan ke dalam bumi melalui suatu elektroda. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan skematik sederhana pengukuran geolistrik pada medium yang homogen.


Gambar 1. Aliran arus listrik apabila menggunakan satu elektroda A sebagai sumber arus (a), aliran arus listrik oleh sepasang elektroda sumber AB dan penerima MN (b). (Sumber: Geoelectrical Methods – MØLLER et al)
Pengukuran geolistrik berkaitan erat dengan geometri susunan elektroda arus dan potensial yang digunakan. Beberapa konfigurasi elektroda yang umum digunakan adalah Schlumberger, Wenner, Dipole-dipole, dan Gradient Array. Perkiraan distribusi resistivitas secara horizontal atau lateral dari data sekunder memungkinkan untuk melakukan pengukuran geolistrik dengan teknik sounding atau profiling. Geolistrik sounding atau Vertical Electrical Sounding merupakan salah satu teknik geolistrik 1-Dimensi yang melihat perubahan nilai resistivitas yang bervariasi terhadap kedalaman di satu titik. Konfigurasi elektroda yang umum digunakan adalah konfigurasi Schlumberger. Variasi perubahan nilai resistivitas secara lateral dapat dilihat secara tepat dengan teknik geolistrik profiling atau geolistrik 2-Dimensi. (Gambar 2)

Gambar 2. Konfigurasi elektroda yang umum digunakan (Sumber: Milsom, 2003)
Teknik pengukuran geolistrik di lapangan telah berkembang dari penggunaan sepasang elektroda sumber arus dan sepasang elektroda penerima beda potensial menjadi beberapa elektroda sekaligus (multi electrode). Setiap elektroda dapat berfungsi sebagai sumber atau penerima pada saat tertentu. Penggunaan elektroda semacam ini, dapat meningkatkan produktifitas dan menekan biaya operasional lapangan. (Gambar 3).
Gambar 3. Layout pengukuran geolistrik multi-eketroda
Metoda geolistrik untuk eksplorasi telah digunakan sejak lama, terutama untuk kepentingan pertambangan. Dalam sejarah, pada tahun 1910, dua bersaudara berkebangsaan Prancis, Conrad dan Marcel Schlumberger menemukan bahwa biji besi dapat dibedakan dari sekitarnya dengan mengukur sifat konduktivitas listriknya. Batuan yang mengandung biji besi ini akan lebih konduktif dibandingkan batuan-batuan di sekitarnya. Jika suatu medan listrik dapat dialirkan ke dalam tanah, pengukuran tegangan listrik di permukaan dapat digambarkan sebagai peta yang menunjukan daerah-dearah yang memiliki nilai potensial listrik yang sama. Di tahun 1912, Conrad mencoba metoda ini pada survey di tambang besi di sekitar Caen, Normandy. Eksperimen yang dilakukan Conrad dan Marcel ini merupakan cikal bakal metoda electrical well logging dari perusahaan Schlumberger.

source :  http://hub.hagi.or.id/index.php/2013/10/23/mengenal-eksplorasi-geolistrik/

Sabtu, 06 April 2013

CARA MENENTUKAN TITIK PENGEBORAN PALING AKURAT



SUMUR BOR DALAM / ARTESIS
Sumur Bor dalam (DEEP WELL DRILLING) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan penggunaan Filter Air untuk memproses air baku yang tidak memenuhi syarat air bersih menjadi air bersih.
Penggunaan Filter air memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang cukup merepotkan serta membutuhkan biaya perawatan yang cukup tinggi.
Dengan menggunakan SUMUR BOR DALAM (DEEP WELL DRILLING) masalah tersebut bisa diatasi karena kecenderungan kondisi tanah yang memiliki kandungan air yang jelek / tidak memenuhi syarat air bersih tersebut biasanya berkisar di kedalaman 12 m s/d 40 meter.
Khusus untuk dilokasi yang memiliki kadar Garam yang tinggi, semisal di daerah pesisir pantai , kedalaman pengeboran bisa mencapai diatas 100 meter untuk memperoleh air bersih. hanya saja kualitas dari air di kedalam ini memiliki kontur warna tersendiri dan juga suhu diatas suhu air biasa .
Akan tetapi kualitas air ini layak untuk digunakan sebagai air bersih untuk mandi, cuci dan kegiatan komersial lainnya.
SUMUR BOR DALAM / ARTESIS MENGATASI AIR KUNING, BAU / ZAT BESI YANG TINGGI
Di sebagian besar wilayah Indonesia, banyak dikeluhkan kondisi air yang kuning, Bau besi atau bau karat serta mengandung Zat besi ( Fe ) yang diambang batas yang diperbolehkan oleh PDAM/PAM.
Hal ini dikeluhkan karena sifatnya yang merusak jika digunakan, Kondisi ini banyak merugikan pengguna air, Biasanya dengan melakukan pengeboran yang dalam Kondisi air ini dapat diatasi,
hanya saja di beberapa daerah kondisi pengeboran yang dikarenakan lokasi di kedalaman tertentu memiliki kontur tanah berbatu sehingga untuk beberapa perusahaan pengeboran local (Tukang Pantek sumur) tidak dapat diatasi karena keterbatasan alat-alat pengeboran.
SUMUR BOR DALAM / ARTESIS UNTUK MENGATASI AIR ASIN / BERGARAM
Di beberapa daerah di pesisir pantai kebutuhan air tanah atau air tawar juga sangat tinggi , dikarenakan air tanah yang tawar ini merupakan kebutuhan vital bagi sumber kehidupan penduduk di sekitarnya.
Hanya saja kegiatan explorasi untuk memperoleh air tawar dan bersih di lokasi pesisir pantai dirasa cukup sulit hal ini dikarenakan pengeboran yang relative sangat dalam bahkan bisa mencapai 200 meter lebih.
Dengan pembuatan sumur bor air dalam/artesis kesulitan untuk memperoleh air bersih ini dapat dilakukan dengan baik, dan banyak hotel, resort yang dipinggir pantai memanfaatkan sumber air ini untuk aktifitas komersial mereka.
PENENTUAN TITIK PENGEBORAN  :
Dengan menggunakan Geolistrik
Salah satu tekhnik untuk menentukan titik pengeboran dengan lokasi yang memiliki cekung air/sumber air yang banyak (AKUIFER) adalah dengan metoda GEOLISTRIK.
Metoda ini memerlukan lahan untuk dilakukan survey yang cukup luas untuk mencari cekungan air (AKUIFER) di dalam tanah. Dengan menggunakan tekhnik RESISTIVITY maka dapat ditentukan tahanan yang disesuaikan dengan kontur tanah/jenis batuan yang merupakan sumber air. Sehingga dapat ditentukan kedalaman yang ideal untuk mencapai air yang cukup banyak dan kualiatas yang baik. Dikarenakan Peralatan GEOLISTRIK ini cukup mahal, maka setiap pengeboran melakukan survey terlebih dahulu.
Kegiatan survey GEOLISTRIK ini bisa memperoleh informasi keadaan tanah hingga 150 meter.

Dengan menggunakan Geo Electromagnetic Satellite Scan  
Penentuan titik pengeboran dengan metoda GEO ELECTROMAGNETIC SATELLITE SCAN (BELAH BUMI) lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan peralatan Geolistrik.
Karena Geo Electromagnetic Satellite Scan mampu melacak :
  1. Lebar Sungai Bawah Tanah
  2. Arah Aliran Sungai Bawah Tanah
  3. Membaca hingga kedalaman 400 mtr dibawah tanah
  4. Mengetahui Struktur Tanah secara detail
  5. Mengetahui frekwensi Aliran Air tanah
  6. Mengetahui kedalaman Jalur Sungai Bawah Tanah
  7. Mengetahui Conductivity Struktur Tanah
Akurasi ketepatan geolistrik hanya 50% sedangkan Geo Electromagnetic Satellite Scan 90% Seringkali Clay basah dibaca air oleh peralatan Geolistrik. Geo Electromagnetic Satellite Scan hanya membaca air yang mengalir di dalam tanah sehingga untuk pengeboran jaran sekali mengalami air kering setelah proses pengeboran selesai.

Berikut adalah contoh hasil Scan Geo Electromagnetic Satellite Scan :

Sistem Proteksi Pompa
Agar pompa dapat beroperasi dengan baik, terdapat prosedur proteksi standar yang diterapkan pada pompa sentrifugal.
Beberapa standar minimum paling tidak terdiri dari:
1. Proteksi terhadap aliran balik.
Aliran keluaran pompa dilengkapi dengan check valve yang membuat aliran hanya bisa berjalan satu arah,
searah dengan arah aliran keluaran pompa.
2. Proteksi terhadap overload.
Beberapa alat seperti pressure switch low, flow switch high, dan overload relay pada motor pompa dipasang
pada sistem pompa untuk menghindari overload.
3. Proteksi terhadap vibrasi.
Vibrasi yang berlebihan akan menggangu kinerja dan berkemungkinan merusak pompa.
Beberapa alat yang ditambahkan untuk menghindari vibrasi berlebihan ialah vibration switch dan vibration monitor.
4. Proteksi terhadap minimum flow.
Peralatan seperti pressure switch high (PSH), flow switch low (FSL), dan return line yang dilengkapi dengan control valve
dipasang pada sistem pompa untuk melindungi pompa dari kerusakan akibat tidak terpenuhinya minimum flow.
5. Proteksi terhadap low NPSH available.
Apabila pompa tidak memiliki NPSHa yang cukup, aliran keluaran pompa tidak akan mengalir dan fluida terakumulasi dalam pompa.
Beberapa peralatan safety yang ditambahkan pada sistem pompa ialah level switch low (LSL) dan pressure switch low (PSL).
Beberapa istilah khusus yang sering berkaitan dengan pompa, ialah:
  1. TDH = Total Dynamic Head, yaitu besarnya head pompa. Merupakan selisih antara head discharge dengan head suction; terkadang disebut head atau total head.
  2. BEP = Best Efficiency Point, yaitu kondisi operasi dimana pompa bekerja paling optimum.
  3. NPSHr = Net Positive Suction Head required, yaitu nilai head absolut dari inlet pompa yang dibutuhkan agar tidak terjadi kavitasi.
  4. NPSHa = Net Positive Suction Head available, yaitu nilai head absolut y ang tersedia pada inlet pompa.
  5. Kavitasi, yaitu kondisi dimana terjadinya bubble (gelembung udara) di dalam pompa akibat kurangnya NPSHa (terjadi vaporisasi) dan pecah pada saat bersentuhan dengan impeller atau casing. Agar tidak terjadi kavitasi, maka NPSHa harus lebih besar dari NPSHr.
  6. Minimum flow, yaitu flow rate yang terkecil yang dibutuhkan agar pompa beroperasi dengan baik. Apabila laju alir lebih rendah dari minimum flow, pompa dapat mengalami kerusakan.
  7. Efficiency, yaitu besarnya perbandingan antara energi yang dipakai (input) dengan energi output pompa.
  8. BHP = brake horsepower, yaitu power (daya) yang dibutuhkan oleh pompa untuk bisa bekerja sesuai dengan kurvanya; memiliki satuan hp.
 Sumber : http://borartetis.blogspot.com

Rabu, 27 Juni 2012

Metoda resistivitas ( Geolistrik )


Metode geolistrik merupakan salah satu metode eksplorasi geofisika yang dapat diterapkan untuk mempelajari karakteristik suatu lapisan batuan, posisi reservoir, pola aliran serta sebaran fluida di bawah permukaan bumi. Indikasi perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik DC (direct current) yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah dijadikan dasar utama metode ini. Injeksi arus listrik ini menggunakan 2 buah elektroda arus A dan B yang ditancapkan ke dalam tanah dengan jarak tertentu. Untu memudahkan dalam proses pengolahan data geolistrik, saya akan menshare softwarenya.

Berikut ini adalah software untuk pengolahan data geolistrik

IP2WIN

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons