Kamis, 04 April 2013

Desain Hidrolis Mercu Bendung (2)

2. Lebar Bendung

Lebar bendung yaitu jarak antara pangkal-pangkalnya (abutment), sebaiknya sama dengan lebar rata-rata sungai pada bagian yang stabil. Dibagian ruas bawas sungai, lebar rata-rata ini dapat diambil pada debit penuh (bankfull discharge); di bagian ruas atas mungkin sulit untuk menentukan debit penuh. Dalam hal ini banjir rata-rata tahunan dapat diambil untuk menentukan lebar rata-rata bendung.
Lebar maksimum bendung hendaknya tidak lebih dari 1.2 lebar rata-rata sungai pada ruas yang stabil.
Untuk sungai-sungai yang mengangkut bahan-bahan sedimen kasar yang berat, lebar bendung tersebut harus disesuaikan laga terhadap lebar rata-rata sungai, yakni jangan diambil 1.2 kali lebar sungai tersebut.
Agar pembuatan bangunan peredam energi tidak terlalu mahal, maka aliran per satuan lebar hendaknya dibatasi sampai sekitar 12-14 m3/dt.m, yang memberikan tinggi energi maksimum sebesar 3.5 – 4.5 m (lihat gambar di bawah ”Lebar efektif mercu”).
Lebar efektif mercu (Be) dihubungkan dengan lebar mercu yang sebenarnya (B), yakni jarak antara pangkal-pangkal bendung dan/atau pilar-pilar dengan persamaan berikut :
Be = B-2.(n.Kp + Ka).H1 (2)
dimana: n : jumlah pilar; Kp : koefisien kontraksi pilar; Ka : koefisien kontraksi pangkal bendung (abutment); H1 : tinggi energi, m
Harga koefisien Ka dan Kp diberikan pada tabel berikut (merujuk pada KP-02, Bagian 4.2.1).
Pilar Kp
Untuk pilar berujung segi empat dengan sudut-sudut yang dibulatkan
Dengan jari-jari 0.1 dari tebal pilar. 0.02
Untuk pilar berujung bulat 0.01
Untuk pilar berujung runcing 0
Abutment Ka
Untuk abutment segiempat dengan tembok hulu 90° ke arah aliran 0.20
Untuk abutment bulat dengan tembok hulu 90° Kearah aliran dengan 0.5 H1 > r > 0.15 H1 0.10
Untuk abutment bulat dengan r > 0.5 H1 dan tembok hulu tidak lebih dari 45° ke arah aliran 0




Dalam memperhitungkan lebar efektif, lebar pembilas yang sebenarnya (dengan bagian depan terbuka) sebaiknya diambil 80% dari lebar rencana untuk mengkompensasi perbedaan koefisien debit dibandingkan dengan mercu bendung itu sendiri (lihat gambar “Lebar efektif mercu”)

Desain Hidrolis Mercu Bendung (1)

1. Bentuk mercu bendung (merujuk pada KP-02, Bagian 4.2.2)


Untuk menjaga agar kondisi aliran yang melimpah diatas mercu stabil, bentuk mercu bendung harus direncanakan secara hati-hati dari segi hidrolis.
Dua tipe mercu bendung tetap di sungai yang biasa digunakan di Indonesia adalah tipe mercu bulat dan tipe mercu ogee, sebagaimana diuraikan di bawah ini:

1.1. Mercu bulat

Mercu bendung bulat mempunyai koefisien debit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mercu bendung ambang lebar. Pada sungai, ini akan banyak memberikan keuntungan karena bangunan ini akan mengurangi tinggi muka air hulu selama banjir. Harga koefisien debit menjadi lebih tinggi karena lengkung streamline dan tekanan negatif pada mercu.


1.2. Mercu Ogee
Mercu Ogee berbentuk tirai luapan bawah dari bendung ambang tajam aerasi. Oleh karena itu mercu ini tidak akan memberikan tekanan subatmosfer pada permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air pada debit rencana. Untuk debit yang lebih rendah, air akan memberikan tekanan ke bawah pada mercu.
Untuk merencanakan permukaan mercu Ogee bagian hilir, US. Army Corps of Engineers telah mengembangkan persamaan berikut :
Y/hd = (I/k) . (X/hd)n
Dimana:
X dan Y : koordinat-koordinat permukaan hilir; hd : tinggi energy rencana diatas mercu; K dan n : parameter yang tergantung pada kecepatan aliran dan kemiringan hilir.
 
Harga k dan n
Kemiringan permukaan hilir
k
N
Vertikal
1 - 0.33
1 - 0.67
1 - 1
2.000
1.936
1.939
1.873
1.850
1.836
1.810
1.776


Bagian hulu mercu bervariasi sesuai dengan kemiringan permukaan hilir, seperti terlihat pada gambar berikut :

Konsep menggambar Revit

Dengan seiringnya kemajuan zaman, teknlogi Komputer dalam bidang desain bangunan, berkembang pesat mengikuti kebutuhan manusia yang memerlukan kecepatan dan akurasi, dalam hal ini mendisain sebuah bangunan secara virtual merupakan pilihan yang tepat, dalam artian seolah-olah kita membuat sebuah model bangunan sesuai dengan kenyataan dan inilah yang disebut konsep Building Information Modeling (BIM), dengan cara ini kesalahan dalam mendisain bisa ditekan seminim mungkin,konsep Building Information Modeling ini telah digagas sejak tahun 1987 oleh  Graphisoft yang mengeluarkan Versi Archicad 3.1.
      Sejak tahun 2002 Autodesk mengeluarkan software Revit dengan konsep BIM, mendesain secara terintegrasi antara gambar perspektif, tampak, potongan, detail, Foto Rendering dan perhitungan BOQ (Bill Of Quantity),  yang sekarang ini makin diminati penggunaannya oleh para Drafter,Arsitek,Engineer dalam pekerjaan mereka.
       Adapun penggunaan Software ini (Revit) berbeda dengan software drafting konvensional (AutoCad) yaitu dengan membuat garis model yang didefinisikan sebagai elemen bangunan seperti dinding,lantai, pintu dll, dan dalam pengoperasiannya Revit telah membagi kategori elemen-elemen utama bangunan yaitu: Dinding,lantai,atap,dan bukaan, sehingga kita tidak bisa membuat model elemen bangunan dengan “Sembarangan” seperti lantai dibuat dengan definisi sebagai atap ataupun dengan yang lainnya,artinya kita membuat design harus sesuai dengan kategorinya.
Elemen-elemen bangunan dalam Revit disebut Family,dan kemudian dibagi 3 kategori diantaranya:
  • View   (Denah & Perspektif)
  • Model (ditampilkan 2 dimensi & 3 dimensi)
  • Notasi gambar (ditampilkan 2 dimensi & 3 dimensi)
Pada setip Elemen ada properties yang mewakili karakter dari element tersebut baik itu dalam hal ukuran, material yang digunakan,yang menjadi data dasar pembuatan BOQ (Bill Of Quantity)
Dalam aplikasinya, Autodesk mengeluarkan 3 Model Software “keturunan” Revit diantaranya:
  • Revit Architecture           (untuk mendisain model Arsitektur)
  • Revit Structure                (untuk mendisain model Struktur)
  • Revit MEP                      (untuk mendisain model Utility: Mechanical,Electrical,Plumbing)

Manajement K3

Teknik Sipil - Tujuan Keselamatan Kerja
  • Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi dan produktivitas.
  • Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja,
  • Sumber produksi diperiksa dan dipergunakan secara aman dan efisien.
Syarat-syarat Keselamatan Kerja
         Secara jelas dan tegas di dalam UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja yang harus dipenuhi oleh setiap orang atau yang menjalankan usaha, baik formal maupun informal ,dimanapun berada dalam upaya memberikan perlindungan keselamatan dan kesehatan semua orang yang berada dilingkungan usahannya.syarat-syarat keselamatan kerja seperti tersebut pada pasal 3 (1) UU keselamatan kerja dimaksud untuk:
  • Mencegah dan mnegurangi kecelakaan.
  • Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran.
  • Memberi kesempatan atau jalan penyelamatan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang membahayakan.
  • Member pertolongan pada kecelakaan.
  • Memberi alat pelindung diri pada pekerja
  • Mencegah dan mengendalilkan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, aliran udara, cuaca, sinar radiasi, kebisingan dan getaran.
  • Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, peracunan, infeksi dan penularan.
  • Memperolah penerangan yang cukup dan sesuai.
  • Menyelenggarakan suhu dan kelembaban udaya yang baik.
  • Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup.
  • Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.
  • Menerapkan ergonomi ditempat kerja.
  • Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang dan barang.
  • Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
  • Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang.
  • Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya.
  • Menyesuaikan dan mnyempurnakan pengamanan pada pekerjaa yang berbahaya, kecelakaan yang menjadi bertambah tinggi. ( UU No 1 tahun 1970 ).

Menggunakan Layer Di Google Sketchup

        Berikut ini saya akan menshare sedikit tips menggambar dengan google sketchup dengan menggunakan LAYER. Berikut ini saya akan tutorial menggunakan fasilitas LAYER yang ada di Google Sketchup dan biasanya di gunakan untuk memisahkan antara kesatuan gambar yang satu dengan yang lainya. Contohnya Ketika anda menggambar sebuah Jalan, Di sistu pasti ada gamabar Lampu Jalan, Pohon, Etc. Gunanya adalah untuk membuat beban kerja computer kita lebih ringan ketika kita menggambar sebuah kesatuan gambar yang utuh. Untuk melihat Tutor tersebut silahkan ---> KLIK


Alat Ukur Sudut

1. Theodolite
Theodholite adalah salah satu alat ukur sudut, yang pengoprasiannya masih manual, dan tanpa dilengkapi EDM. Jenis theodolite dipandang dari ketelitiannya mempunyai beberapa macam, diantaranya T0, T1, dan lainya. Biasa digunakan untuk pengukuran detail dan perapatan titik koordinat yang mempunyai refrensi TDT Orde 4.



2. Theodolite Semi Digital
Seperti halnya Theodholite pada angka 1, tanpa EDM, hanya saja pengoprasiannya sudah menggunakan sistem digital. Biasa digunakan untuk perapatan titik koordinat dan pengukuran detail.





3. Total Station
Total station adalah sebuah Teodholite yang di gunakan untuk mengukur sudut, hanya saja di lengkapi dengan pengoprasian sistem digital, dan sebuah EDM yang berguna untuk pengukuran jarak, dalam pengukuran jarak pada total Station diperlukan Target berupa prisma yang berguna untuk mengembalikan sinyal EDM kembali ke Total Station. ketelitian jarak Total Station adalah sampai dengan 1mm dan ketelitian sudutnya berkisar 1-5” tergantung dari alatnya. Biasa digunakan untuk mengukur Koordinat TDT Orde 4, sebuah perapatan titik koordinat dari beberapa refrensi TDT Orde 3 atau di atasnya. Di gunakan juga dalam pengukuran detail.

Import File CAD ke Sketchup Pro

Untuk membantu dalam proses penggambaran di sketchup, kita bisa mengimpor file cad ke sketchup dengan catatan : program sketchup harus yang edisi Pro.
Karena, program sketchup bawaan atau standard tidak menyediakan import file yang berekstensi.dwg

Berikut caranya :
1. Buka program skethup, kemudian pilih File ---> import


gambar 1
  2. Cari file cad yang ingin di import ke dalam sketchup. Jangan lupa untuk mengganti file type menjadi AutoCad (.dwg). Setelah itu klik Option untuk mengatur skala yang diinginkan agar sesuai dengan yang ada di cad. pilih cm jika anda menggambar dengan ukuran cm di cad.

gambar 2
3. Tunggu hingga proses import filenya selesai. Semakin besar kapasitas file yang diimport maka prosesnya juga semakin lama.

Catatan : agar garis file cad terbaca di sketchup, terlebih dulu garis cad di explode kemudian di import.

gambar 3
gambar 4

Semoga bermanfaat...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons