Senin, 04 April 2011

TRANSPORTASI MAKRO (lapter_BAG 1)

Transportasi makro

Transportasi: perpindahan barang dan manusai dari tempat asal ke tempat tujuan.
Proses transportasi merupakan gerakan dari tempat asal, yaitu dari mana kegiatan transportasi di mulai ke tempat tujuan, yaitu ke mana kegiatan transportasi itu diakhiri.
Dalam proses transportasi di atas terdapat komponen atau objek yang saling berkaitan dan membentuk suatu sistem yang dikenal sebagai sistem transportasi makro.
Sistem ini terdiri dari beberapa sub-sistem/sistem transportasi mikro, sbb:
1. Sistem kegiatan (transport demand): membangkitkan pergerakan dan menarik pergerakan lalu lintas.
2. Sistem jaringan (transport supply): prasarana transportasi.
3. Sistem pergerakan (traffic): lalu lintas.
4. Sistem kelembagaan: instansi.

-Sistem kegiatan: BAPPEDA, BAPPENAS, BANGDA, PEMDA.
-Sistem jaringan: Departemen Perhubungan, Bina Marga.
-Sistem pergerakan: DLLAJR, ORGANDA, POLANTAS, ICAO, FAA.


Interaksi antar sistem transportasi mikro pada moda angkutan udara
Sistem kegiatan pada moda angkutan udara lebih luas sehingga lebih mempertimbangkan pola tata ruang nasional atau regional sehingga dengan sistem ini dapat diketahui pola/arah pembangunan nasional atau regional, karena diharapkan sistem jaringan transportasi udara dapat mendukung sistem kegiatan – tata guna lahan nasional atau regional.
Sistem jaringan transportasi udara meliputi:
¦  Sistem kegiatan (BAPPENAS, BAPPEDA TK I dan II).
¦  Jaringan dan rute penerbangan (Dephub dan Perusahaan Penerbangan).
¦  Sistem pergerakan (ICAO, FAA).



Sarana transportasi udara: pesawat terbang itu sendiri.

Prasarana transportasi udara
Prasarana lapangan terbang terdiri dari dua bagian penting:
? Prasarana/fasilitas sisi udara.
? Prasarana/fasilitas sisi darat, fasilitas operasi dan fasilitas penunjang.


Tatanan kebandarudaraan nasional
Tujuan tatanan kebandarudaraan nasional:
a. Terjadinya jaringan prasarana bandar udara secara terpadu, serasi dan harmonis agar bersinergi dan tidak saling mengganggu yang bersifat dinamis.
b. Terjadinya efisiensi transportasi bandar udara secara nasional.
c. Terwujudnya penyediaan jasa kebandarudaraan sesuai kebutuhan.
d. Terwujudnya penyelenggaraan yang andal dan berkemampuan tinggi dalam rangka menunjang pembangunan nasional dan daerah.


Tatanan kebandarudaraan nasional berisi penggolongan bandar udara berdasarkan:
Bandar udara
Menurut:
1. Fungsinya.
2. Penggunaannya.
3. Klasifikasinya.
4. Statusnya.
5. Penyelenggaraannya.
6. Kegiatan bandar udaranya.


Bandar udara menurut fungsinya:
Sebagai:
-Simpul dalam transportasi udara.
-Pintu gerbang kegiatan perekonomian nasional dan internasional.
-Tempat kegiatan alih moda transportasi.


Bandar udara menurut pengunaannya:
-Terbuka ke dan dari luar  negeri.

-Tidak terbuka ke dan dari luar negeri.


Kriteria penentuan hal tersebut di atas adalah berdasarkan:
-Potensi permintaan penumpang angkutan udara.
-Potensi kondisi geografis.
-Potensi kondisi pariwisata.
-Potensi kondisi ekonomis.
-Aksebilitas dengan bandar udara di sekitarnya.
-Keterkaitan intra dan antar moda.



Bandar udara menurut klasifikasinya:
Bandar udama
Kelas:
-Utama.

-I A.

-I B.

-II A.

-II B.

-III A.

-III B.

-IV dan V (perintis).


Kriteria penentuan hal tersebut di atas adalah berdasarkan:
-Jenis pengendalian ruang udara di sekitar bandar udara.
-Fasilitas bandar udara.
-Kegiatan operasi bandar udara.
-Potensi kondisi ekonomi.


Bandar udara menurut status:
Bandar udara:
-Umum: yang digunakan untuk melayani kepentingan umum.

-Khusus: yang digunakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang kegiatan tertentu.


Bandar udara menurut penyelenggaranya:
Bandar udara
-Umum oleh:
 a. Pemerintah.
 b. Pemerintah provinsi.
 c. Pemerintah kabupaten/kota.
 d. Badan usaha kebandarudaraan.

-Khusus oleh:
 a. Pemerintah.
 b. Pemerintah provinsi.
 c. Pemerintah kabupaten/kota.
 d. Badan hukum Indonesia.


Konfigurasi bandar udara
-Konfigurasi: jumlah dan arah dari landasan pacu dan penempatan bangunan terminal, termasuk lapangan parkir yang berkaitan dengan landasan pacu itu.
-Jumlah landasan pacu tergantung dari volume lalu lintas udara, arah landasan tergantung dari arah angin dominan dan juga ketersediaan lahan.
-Gedung-gedung terminal diatur sedemikian rupa sehingga penumpang denganmudah dan cepat mencapai landasan pacu.
-Seluruh perencanaan meliputi gabungan dari fasilitas banar udara dan bagian-bagian operasi yang memberikan kombinasi yang paling efisien.


Runway: bagian bandar udara yang berbentuk segi empat persegi panjang dan digunakan pesawat terbang untuk lepas landas (take-off) dan mendarat (landing). 

Bagian-bagian landasan pacu
a. Struktur perkerasan.
b. Bahu landasan.
c. Daerah aman landasan pacu.



Konfigurasi landasan pacu
Konfigurasi landasan pacu dapat dibagi menjadi:
a. Landasan pacu tunggal
    Kapasitas
                     VFR 50 – 100 operasi/jam.
                     IFR  50 – 70   operasi/jam.


b. Landasan pacu sejajar
    -Jarak rapat/berdekatan (jarak antar sumbu 700 ft = 213 m sampai < 2.500 ft = 761 m).
     Kondisi IFR 50 – 60 operasi/jam.

    -Jarak menengah (jarak antar sumbu 2.500 ft sampai < 4.300 ft = 1.310 m ).
     Kondisi IFR 60 – 75 operasi/jam.

    -Jarak renggang (mempunyai jarak antar sumbu = 4300 ft).
     Kondisi IFR 100 – 125 operasi/jam.


c. Landasan pacu dua jalur
    Terdiri dari dua landasan pacu sejajar berjarak rapat 700 ft sampai < 2.500 ft dengan landasan hubung keluar yang memadai sedangkan landasan pacu yang jauh dari terminal digunakan untuk kedatangan dan dekat digunakan untuk keberangkatan.
    Daya tampung LL udara adalah 70% > dari landasan pacu tunggal dalam kondisi VFR, sedang 60 % > apabila dalam kondisi IFR.


d. Landasan pacu bersilang
    Bandar udara yang mempunyai dua atau lebih landasan pacu yang arahnya berbeda dan saling berpotongan, pola tersebut dinamakan pola berpotongan.
    Digunakan bila angin bertiup kencang lebih dari satu arah.
    Kapasitas ditentukan dari letak titik potongnya.
    Kapasitas tertinggi bila titik potong terletak dekat ujung landasan pacu.


e. Landasan pacu V terbuka
    Arah landasan pacu divergen (memencar), tetapi tidak saling potong.
    Dapat berubah menjadi landasan tunggal bila angin bertiup kencang dari satu arah.
    Kapasitas maksimum bila menjauhi V, kapasitas IFR 60 – 70 operasi/jam dan VFR 80 – 200 operasi/jam.
    Bila mendekati V kapasitas IFR 50 – 60 operasi/jam dan dalam kondisi VFR 50 – 100 operasi/jam.


Taxiway
Fungsi utamanya adalah sebagai jalan keluar masuk pesawat dari landasan pacu ke bangunan terminal (apron) dan sebaliknya atau ke hanggar pemeliharaan.
Taxiway harus diatur sedemikian rupa agar pesawat yang baru mendarat tidak mengganggu pesawat yang akan lepas landas dan dapat meninggalkan landasan pacu secepatnya agar landasan pacu dapat dignakan utk pesawat yang akan lepas landas, sebaiknya taxiway direncanakan agar pesawat dapat berbelok dalam kecepatan tinggi.


Apron/landasan parkir: bagian bandar udara yang digunakan untuk parkir pesawat terbang.
Di tempat ini juga merupakan tempat naik/turun penumpang, bongkar muat barang dan pengisian bahan bakar.
Tempat ini juga dapat dijadikan tempat untuk melaksanakan perbaikan kecil terhadap pesawat terbang.


Holding apron
Disebut juga apron ancang atau pemanasan, ditempatkan sangat dekat dengan ujung landasan pacu untuk melaksanakan pemeriksanaan teknis terakhir sebelum lepas landas.
Harus dibuat cukup luas agar apabila ada pesawat terbang yang gagal lepas landas, maka pesawat terbang lain yang akan lepas landas dapat melaluinya.
Apron dirancang untuk dapat menampung dua atau empat pesawat terbang dan bila memungkinkan diletakkan sedemikian rupa agar pesawat terbang yang berangkat dari apron ini dapat memasuki ujung landasan pacu dengan sudut lebih kecil dari 90°.


Holding bay: apron yang relatif lebih kecil ditempatkan pada suatu tempat yang mudah dicapai di bandar udara untuk parkir pesawat terbang sementara untuk menunggu kesempatan masuk, terutama pada jam sibuk.
Biasanya juga diinginkan untuk keperluan khusus, seperti dilindungi dari gangguan umum.


Perancangan/pemilihan lokasi bandar udara
1. Tipe pengembangan lingkungan sekitarnya.
2. Kondisi atmosfir.
3. Kemudahan mendapatkan angkutan darat.
4. Tersedianya tanah untuk pengembangan.
5. Adanya bandar udara lainnya.
6. Halangan di sekeliling.
7 Pertimbangan ekonomis.
8. Tersedianya utilitas.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons